Ilmuwan rajin men-Tweet, apakah selalu akurat? Kita perlu perhatikan 12 indikator kualitas komunikasi sains ke publik

Ilham Akhsanu Ridlo, Universitas Airlangga

Pandemi COVID-19 sejak awal 2020 semakin membuat ilmuwan mempunyai peran penting dalam komunikasi sains untuk menjelaskan masalah sains secara akurat. Peranan mereka kian besar dalam menghadapi isu kesehatan global.

Namun seringkali komunikasi sains yang dilakukan oleh ilmuwan memicu pertentangan publik. Bahkan tidak sedikit yang menyisakan informasi yang tidak tepat (misleading) bagi masyarakat awam.

Contoh terbaru pertentangan dan informasi yang tidak tepat ini dapat ditemukan pada kasus artikel opini Eric Feigl-Ding dan koleganya berjudul Let’s call monkeypox what it is: A pandemic di The Washington Post, 7 Juli 2022.

Dalam artikel ini, Eric, seorang epidemiolog dan pendiri the World Health Network (WHN), menyatakan wabah cacar monyet telah berkembang menjadi pandemi pada saat itu. Akun Twitter WHN juga merilis informasi sensasional dan menimbulkan kepanikan (perdebatan) di Twitter bahwa wabah cacar monyet jadi pandemi pada 23 Juni.

Gabby Stren, Direktur Komunikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 8 Juli membantah langsung informasi Eric via Twitter bahwa status cacar monyet versi Eric itu kurang akurat.

Kendati pada akhirnya WHO merilis pernyataan darurat kesehatan internasional (PHEIC) atau pandemi pada 23 Juli 2022 untuk cacar monyet, namun hingga artikel Eric dan cuitan WHN dipublikasikan infeksi cacar monyet belum dideklarasikan sebagai pandemi. Status PHEIC juga disematkan pada penyakit COVID-19 pada Maret 2020.

Para ilmuwan perlu memikirkan kualitas komunikasi sains sebelum mereka men-tweet suatu informasi agar tidak melahirkan kebingungan di kalangan awam. Apalagi soal informasi kesehatan yang terkait langsung dengan kesehatan individual dan masyarakat.

Sebuah paper yang disusun oleh para pemangku kepentingan komunikasi sains yaitu peneliti, jurnalis sains, komunikator sains, pembuat keputusan sains, dan masyarakat awam telah mengembangkan sebuah kerangka kerja (framework) untuk indikator kualitas komunikasi sains. Hasil kegiatan ini dikumpulkan ke dalam tiga dimensi utama dan 12 kerangka indikator kualitas komunikasi sains.

Kualitas konten sains di belantara media sosial

Situasi sosial media yang menjadi medium utama distribusi komunikasi sains saat ini dipenuhi oleh tiga isu utama yaitu disintermediasi, infodemi, dan polarisasi. Tiga hal ini yang mempengaruhi bagaimana komunikasi sains diterima oleh masyarakat.

Pertama, disintermediasi, yaitu saat semua orang dapat menjadi apa saja tanpa batas yang jelas. Kondisi ini dipengaruhi oleh ekosistem media yang berkembang pesat sejak era media sosial.

Aktor lama dalam pemberitaan sains yang biasanya didominasi oleh ilmuwan, jurnalis sains, dan lembaga ilmu pengetahuan dalam era sosial media melahirkan aktor baru dari beragam latar belakang yang lebih luas.

Pada era pandemi, siapa pun dapat terlibat dalam komunikasi sains tanpa harus memenuhi seleksi tertentu melalui media sosial. Dalam kasus Eric, walau dia adalah epidemiolog, dia tidak tepat mengomentari pandemi penyakit menular, sesuatu di luar kajian risetnya yang lebih banyak berfokus pada penyakit tidak menular seperti obesitas, nutrisi, dan pencegahan kanker.

Kedua, kondisi ini seringkali melahirkan infodemi, yakni banjir informasi yang tidak akurat.

Kasus cuitan Eric tentang cacar monyet bukan yang pertama terjadi. Sejak cuitan pertamanya Januari 2020, Eric dijuluki sebagai “pencari perhatian yang mengkhawatirkan”. Isi cuitannya tentang artikel ilmiah pracetak (pre-print) yang terbit pada 31 Januari 2020 mengklaim bahwa SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19) merupakan virus buatan yang direkayasa menggunakan virus HIV.

Temuan tersebut memicu teori konspirasi bahwa virus baru itu mungkin merupakan senjata biologis dan menjadi kontroversi besar. Walau pada akhirnya artikel ilmiah pracetak ini ditarik beberapa hari setelahnya dan cuitan Eric kemudian dihapus, namun unggahan tersebut telah tersebar luas. Hingga saat ini Eric mendapatkan jutaan pengikut setidaknya mencapai 7,2 juta.

Di tengah sedikitnya bukti dan masih gelapnya informasi yang memadai tentang COVID-19 saat itu, cuitan Eric menjadi rujukan masyarakat awam. Beberapa ilmuwan mengkritik bahwa cuitan dan thread Eric seringkali tidak akurat, sensasional dan hiperbolik, serta tidak cermat menelaah artikel ilmiah yang belum direview oleh ilmuwan sejawat.

Ketiga, keadaan ini lebih jauh lagi berdampak pada polarisasi yang berkembang pada masyarakat karena perbedaan sikap dan pandangan ideologi yang bertentangan dengan konsensus ilmiah.

Aktor baru munculkan tantangan baru

Lahirnya aktor-aktor baru dalam komunikasi sains menjadi tantangan tersendiri bagi ilmuwan dan akademisi. Mereka perlu membekali kemampuan lebih menghadapi disrupsi ekosistem media baru dan situasi yang penuh ketidakpastian merespons isu krisis kesehatan global.

Peran peneliti dalam komunikasi sains ini tidak hanya berperan menggambarkan berbagai praktik yang mentransmisikan ide, metode, pengetahuan, dan penelitian ilmiah kepada audiens non-ahli dengan cara yang dapat diakses, dimengerti, atau berguna. Namun, karena komunikasi sains ini bersifat multidisiplin, maka dibutuhkan kesadaran bagi peneliti untuk mengetahui keterbatasannya dan membuka celah bagi bidang ilmu yang lain untuk berkolaborasi.

Dalam proses transmisi pengetahuan sains pada awam, ilmuwan perlu memperhatikan kualitas komunikasi sains.

Wacana kualitas ini menonjol sejak diskusi publik ramai membahas tentang topik yang mempunyai dampak sosial yang tinggi seperti perubahan iklim, keraguan vaksinasi atau pandemi COVID-19 yang sedang terjadi hingga kini.

Munculnya media sosial dapat membantu. Namun, keterbatasan bukti ilmiah yang dinamis dalam jurnalisme sains menjadi pertaruhan besar dalam produksi konten komunikasi sains yang berkualitas dan akurat.

Jurnalis sains Arko Olesk dan koleganya di QUEST (Quality and Effectiveness in Science and Technology communication) merumuskan dua belas indikator kualitas sains dalam tiga dimensi: (1) dimensi kepercayaan dan kecermatan ilmiah, (2) gaya penyampaian pesan, dan (3) koneksi dengan masyarakat. Selengkapnya ada di tabel di bawah ini.

QUEST

Dimensi kepercayaan dan kecermatan ilmiah menekankan bahwa komunikasi sains sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan publik pada sumber informasi dan media komunikasi. Audiens dapat membuat keputusan berdasarkan informasi yang mempunyai tingkat kepercayaan informasi dan sumber yang akurat.

Indikator dari dimensi ini adalah acuan sumber informasi diambil dari rujukan ilmiah yang faktual, seimbang, dan transparan.

Gaya penyampaian pesan berfokus pada bagaimana konten ilmiah disajikan, dapat dipahami, menarik dan mempunyai interaksi yang bermakna bagi publik.

Tantangan pada dimensi ini terletak pada bagaimana ilmuwan dapat menyeimbangkan upaya untuk menarik perhatian publik tanpa mengorbankan nilai objektivitas, transparansi, dan kaidah ilmiah yang dapat dipercaya. Dimensi ini meliputi kejelasan pesan, koherensi dan kontekstualisasi pesan, daya tarik dan pikat untuk mendekatkan audiens pada topik sains yang lebih kompleks, dan interaksi dengan audiens dengan cara dialogis dan umpan balik.

Koneksi dengan masyarakat menunjukkan kemampuan komunikasi ilmuwan untuk berkontribusi dalam perubahan positif serta sebagai perantara informasi ilmiah bagi masyarakat.

Dimensi ini meliputi target dan tujuan yang jelas, berdampak pada perubahan sosial maupun individu, dan berhubungan dengan fenomena sehari-hari atau peristiwa terkini. Selain itu, ilmuwan bertanggung jawab terhadap informasi ilmiah yang disampaikan mempunyai sisi kontroversial dan berimplikasi pada standar etika ilmiah untuk menghindari kerusakan dan disinformasi publik.

Beberapa dimensi kualitas komunikasi sains yang dijabarkan dalam dua belas indikator ini dapat membantu para ilmuwan untuk melakukan komunikasi sains kepada publik. Kita berharap itu akan membantu masyarakat untuk memahami sains sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Yang paling penting ilmuwan dapat mendorong budaya kritis masyarakat dalam merespons situasi lingkungan sekitar untuk membentuk keputusan individu yang lebih baik berdasarkan sains yang akurat dan kredibel.

Ilham Akhsanu Ridlo, Adjunct assistant professor in health policy, Universitas Airlangga

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

By:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: